9 Langkah Belajar Menulis untuk Pemula

65

Rajin Membaca

Sebagai seorang penulis, memiliki banyak sumber referensi adalah sebuah keharusan.

Aktivitas pertama yang harus kita lakukan agar mahir menulis adalah membaca, membaca, dan terus membaca.

Dengan membaca, kita akan mendapatkan lebih banyak informasi.

Dan yang paling penting, menambah kosakata.

Ibarat kendaraan, kata adalah bahan bakar. Tanpa bahan bakar yang tepat dan cukup, kita tidak akan sampai ke tujuan.

Dengan kata lain, tujuan dari tulisan yang kita buat akan susah sekali diterima oleh pembaca.

Membaca bisa apa saja. Entah itu komik, novel, koran, bahkan sekedar membaca “Syarat dan Ketentuan” pada produk yang kita beli (biasanya dimulai dengan tanda bintang dan ditulis sangat kecil).

Karena akan sangat tidak nyambung ketika kita menganggap diri kita sebagai penulis, tetapi malas membaca.

Contoh paling mudah adalah menulis konten di media sosial.

  1. Facebook. Bisa dimulai dengan membagikan sebuah berita dan menambahkan beberapa kata sebagai opini.
  2. Twitter. Disini kita bisa mulai menulis bebas. Hal receh sekalipun.
  3. Instagram. Belajar menulis caption pendek mulai dari 100 kata.

Meski singkat, berlatih menulis di media sosial bisa menjadi titik awal kita untuk berekspresi.

Karena menulis adalah tentang membuat perubahan.

Dengan menulis kita bisa mencapai banyak sekali tujuan besar, seperti:

  • Menginspirasi orang lain
  • Menyebarkan informasi yang bermanfaat
  • Mendapatkan penghasilan
  • Bahkan, mengubah dunia

Tentu kita sudah banyak sekali mendapatkan contoh bahwa dari media sosial dan sebuah tulisan, bisa merubah banyak hal.

Seperti komplain kita terhadap sebuah layanan. Biasanya akan cepat ditanggapi ketika sudah viral di media sosial.

Seperti yang sedang kami lakukan saat ini. Kami tidak berharap tulisan ini akan dibaca banyak orang.

Tetapi lebih sebagai pengingat ketika kami mulai malas untuk menulis, mulai kurang produktif, atau mulai menulis asal-asalan.

Tips tips yang kita tulis pada artikel ini akan menjadi rujukan pertama ketika hal tersebut terjadi.

Memahami Pembaca

Tulis untuk diri sendiri. Lalu tulis ulang untuk pembaca.

Ketika kita sudah menyelesaikan sebuah tulisan, baca ulang tulisan tersebut dan posisikan kita sebagai pembaca.

Apakah tulisan tersebut sudah memiliki ikatan emosi untuk pembaca?

Ikatan emosi itu bisa berupa:

  • Perasaan senang atau sedih
  • Keinginan pembaca untuk membagikan tulisan kita
  • Pembaca berhasil mengatasi masalah yang dihadapi dengan panduan yang kita tulis

Hal nyata yang bisa kita lakukan untuk memahami pembaca adalah dengan berbicara langsung dengan mereka.

Dari situ kita akan mendapatkan perspektif baru dari sisi pembaca.

Lakukan Riset

Ketika kita sudah memutuskan untuk menulis sesuatu, mulailah melakukan riset. Terutama ketika kita menulis tentang hal yang kurang kita kuasai.

Seperti pada poin pertama, membaca.

Riset adalah membaca dan mempelajari berbagai sumber yang relevan.

Seperti saat menulis artikel tentang “Belajar Menulis” ini. Kami mengumpulkan berbagai artikel yang tersebar di internet.

Rumusnya, menulis 1 artikel, minimal kita sudah membaca dan mempelajari 10 artikel.

Dari berbagai sumber yang kita pelajari, ada puluhan tips yang bisa dilakukan oleh seorang pemula untuk mulai menulis.

Namun kita hanya mengambil beberapa poin saja yang kita anggap penting dan mudah dijalankan.

Tulis Apa yang Kita Ketahui

Paling gampang adalah menulis apa yang kita alami secara langsung. Tetapi tidak semua hal yang kita alami menarik untuk membaca.

Pastikan hal tersebut menimbulkan ikatan emosi dengan pembaca.

Contoh yang bisa kita tulis dari pengalaman pribadi:

Pengalaman kita menikah diusia muda. Bagaimana perasaan kita, apa saja yang kita persiapkan, apa saja permasalahan yang muncul, bagaimana kita bersikap ketika terjadi masalah.

Tulisan diatas akan sangat menarik bagi orang orang yang akan menikah diusia muda. Atau mereka yang sudah menikah diusia muda dan memiliki masalah yang sama dengan kita.

Namun tidak semua yang kita alami menarik untuk ditulis, seperti rutinitas harian kita yang membosankan. Akan sangat kecil kemungkinan orang tertarik untuk membaca.

Ciptakan Suasana Menulis yang Nyaman

Beberapa orang sangat produktif menulis di ruang kerja yang sepi dan minim distraksi. Sebagian yang lain bisa menyelesaikan tulisan dengan cepat ketika menulis di cafe.

Ada orang yang sangat produktif di malam hari, sedangkan yang lain sangat produktif di pagi hari.

Ada orang yang butuh musik untuk menemani menulis. Sementara yang lain tidak boleh diganggu dengan suara apapun.

Pada intinya, kita harus mengetahui kondisi seperti apa yang paling cocok untuk menulis.

Pertimbangan bisa berupa:

  • Waktu. Pagi, siang, sore, malam, weekdays, atau weekend.
  • Tempat. Rumah, kantor, cafe, pantai, atau mobil.
  • Kondisi sekitar. Ramai, sepi, sejuk, ada semilir angin.
  • Alat. Laptop, buku catatan, aplikasi “notes“.

Konsisten dan Konsekuen

Ketika kita sudah menemukan formula yang tepat untuk menulis, langkah selanjutnya adalah KONSISTEN dan KONSEKUEN dengan diri sendiri.

Tantang diri sendiri untuk rutin menulis.

Contoh yang cukup ampuh:

  • Menulis 100 kata setiap hari sebelum memulai aktifitas apapun. Selama 1 bulan.
  • Menyelesaikan 10 artikel, masing masing 1000 kata.
  • Menulis status facebook setiap hari selama sebulan. Minimal 100 kata.
  • Publish 1 artikel di blog setiap hari. Selama 1 tahun.

Agar lebih memacu semangat, tambahkan konsekuensi ketika target diatas tidak tercapai, seperti:

  • Tidak boleh makan daging
  • Tidak boleh liburan jauh
  • Tidak boleh upgrade gadget
  • Dan masih banyak lagi, kita lebih tahu apa yang paling menantang untuk diri kita sendiri.

Evaluasi

Terakhir, jangan bosan untuk terus mengevaluasi tulisan kita sendiri.

Bisa dengan membaca ulang tulisan kita yang lampau. Lalu melakukan editing di bagian yang dirasa perlu.

Atau meminta seorang expert writer untuk menjadi editor tulisan kita.

Penulis : Ganjar Swasono Gumilar

Sumber : Kolektif.id